Keragaman bahasa. Merah: delapan negara yang memegang 50% dari bahasa-bahasa dunia. Biru: wilayah dengan keragaman tertinggi.
[1]
Bahasa bisa mengacu kepada kapasitas khusus yang ada pada
manusia untuk memperoleh dan menggunakan sistem
komunikasi yang kompleks, atau kepada sebuah instansi spesifik dari sebuah sistem komunikasi yang kompleks. Kajian ilmiah terhadap bahasa dalam semua indra disebut dengan
linguistik.
Bahasa sebagai sistem komunikasi dikatakan pada dasarnya berbeda dari dan lebih tinggi tingkat kerumitannya daripada spesies lain dimana ia berdasarkan pada sebuah sistem kompleks dari aturan yang berkaitan dengan simbol dan makna, sehingga menghasilkan sejumlah kemungkinan penyebutan yang tak terbatas dari sejumlah elemen yang terbatas. Bahasa dikatakan berasal sejak hominid pertama kali mulai bekerja sama, mengadopsi sistem komunikasi awal yang berdasarkan pada isyarat ekspresif yang mengikutkan
teori dari pikiran dan dibagi secara sengaja. Perkembangan tersebut dikatakan bertepatan dengan meningkatnya volume pada otak, dan banyak ahli bahasa melihat struktur bahasa telah berkembang untuk melayani fungsi komunikatif tertentu. Bahasa
diproses pada otak manusia dalam lokasi yang berbeda, tetapi secara khusus berada di
area Broca dan
area Wernicke. Manusia
mengakuisisi bahasa lewat interaksi sosial pada masa balita, dan anak-anak sudah dapat berbicara secara fasih sekitar umur tiga tahun. Penggunaan bahasa telah berakar dalam
kultur manusia dan, selain digunakan untuk berkomunikasi dan berbagi informasi, ia juga memiliki fungsi sosial dan kultural, seperti untuk menandakan
identitassuatu kelompok,
stratifikasi sosial dan untuk
dandanan sosial dan
hiburan. Kata "bahasa" juga dapat digunakan untuk menjelaskan sekumpulan aturan yang membuat ia bisa ada, atau sekumpulan penyebutan yang dapat dihasilkan dari aturan tersebut.
Semua bahasa bergantung pada proses
semiosis untuk menghubungkan sebuah
isyaratdengan sebuah
makna tertentu.
Bahasa oral dan
Bahasa isyarat memiliki sebuah sistem
fonologikal yang mengatur bagaimana suara atau simbol visual digunakan untuk membentuk urutan yang dikenal sebagai kata atau
morfem, dan sebuah sistem
sintaks yang mengatur bagaimana kata-kata dan
morfem digunakan membentuk frasa dan penyebutan. Bahasa tulis menggunakan simbol visual untuk menandakan suara dari bahasa lisan, tetapi ia masih membutuhkan aturan sintaks yang memproduksi makna dari urutan kata-kata. Bahasa-bahasa
berubah dan bervariasi setiap waktu, dan sejarah evolusinya dapat direkonstruksi ulang dengan
membandingkan bahasa modern untuk menentukan ciri-ciri mana yang harus dimiliki oleh bahasa pendahulunya untuk perubahan nantinya dapat terjadi. Sekelompok bahasa yang diturunkan dari leluhur yang sama dikenal sebagai
keluarga bahasa. Bahasa yang digunakan dunia sekarang tergolong pada
keluarga Indo-Eropa, yang mengikutkan bahasa seperti
Inggris,
Spanyol,
Portugis,
Rusia dan
Hindi;
Bahasa Sino-Tibet, yang melingkupi
Bahasa Mandarin,
Cantonese dan lainnya;
bahasa Semitik, yang melingkupi
Arab,
Amhar dan
Hebrew; dan
bahasa Bantu, yang melingkupi
Swahili,
Zulu,
Shona dan ratusan bahasa lain yang digunakan di
Afrika. Empat puluh persen bahasa di dunia terancam dan ada kemungkinan menjadi punah.
[3]
Kata "bahasa" memiliki paling kurang dua makna dasar: bahasa sebagai konsep umum, dan "sebuah bahasa" (sebuah sistem linguistik tertentu, contohnya "
bahasa Prancis").
Ferdinand de Saussure yang pertama kali dengan jelas memformulasi perbedaannya, menggunakan kata Prancis
langage untuk bahasa sebagai sebuah konsep dan
langue sebagai instansi spesifik dari bahasa.
[4]
Bila berbicara mengenai bahasa sebagai konsep umum, beberapa definisi berbeda dapat digunakan untuk menekankan aspek yang berbeda dari fenomena.
[5] Definisi tersebut juga memerlukan pendekatan dan pemahaman berbeda, dan mereka memberikan kajian teori linguistik yang berbeda dan terkadang bertentangan.
[sunting]Kemampuan mental, organ atau insting
Salah satu definisi melihat bahasa pada pokoknya sebagai
kemampuan mental yang membuat manusia dapat menggunakan perilaku linguistik: untuk belajar bahasa dan menghasilkan dan memahami penyebutan. Definisi ini menekankan keuniversalan bahasa untuk semua manusia dan dasar biologis dari kapasitas manusia terhadap bahasa sebagai perkembangan yang unik dari
otak manusia.
[6] [7]Pandangan ini memahami bahasa secara garis besar
bawaan lahir, sebagai contoh dalam teori
Chomsky mengenai
Tata bahasa universal, dan teori ekstrim lahiriah dari
Jerry Fodor . Definisi semacam ini sering diaplikasikan oleh orang yang mempelajari bahasa lewat kerangka
ilmu kognitif dan dalam
neurolinguistik.
[sunting]Sistem simbolik formal
Definisi lain melihat bahasa sebagai sebuah sistem formal dari isyarat-isyarat yang diatur oleh aturan-aturan kombinasi tata-bahasa untuk mengkomunikasikan suatu makna. Definisi ini menekankan fakta bahwa bahasa manusia dapat dijelaskan sebagai
sistem terstruktur tertutup yang terdiri dari aturan-aturan yang menghubungkan isyarat tertentu terhadap makna tertentu. Pandangan
strukturalis terhadap bahasa pertama kali diperkenalkan oleh
Ferdinand de Saussure, dan strukturalisme-nya tetap menjadi fondasi terhadap hampir semua pendekatan terhadap bahasa pada masa sekarang. Beberapa pendukung pandangan bahasa ini telah menyarankan sebuah pendekatan formal untuk mempelajari struktur bahasa, khususnya formulasi dasar dari aturan-aturan abstrak yang dapat dipahami untuk menghasilkan struktur linguistik yang dapat diobservasi. Pendukung utama dari teori tersebut yaitu
Noam Chomsky, yang mendefinisikan bahasa sebagai sebuah kumpulan kalimat yang dapat dihasilkan dari sekumpulan aturan tertentu.
[8]Sudut pandang strukturalis biasanya digunakan dalam
logika formal,
semiotik, dan dalam
teori tata-bahasa formal dan
struktural, kerangka teoritikal yang banyak digunakan dalam
penjelasan linguistik. Dalam
filsafat bahasa pandangan ini berhubungan dengan filsuf seperti
Bertrand Russell,
Wittgenstein muda,
Alfred Tarski dan
Gottlob Frege.
[sunting]Alat untuk komunikasi
Definisi lain dari bahasa adalah sebagai sebuah sistem komunikasi yang membuat manusia dapat bekerja sama. Definisi ini menekankan fungsi sosial dari bahasa dan fakta bahwa manusia menggunakannya untuk mengekspresikan dirinya sendiri dan untuk memanipulasi objek dalam lingkungannya.
Teori fungsional dari tata bahasa menjelaskan struktur tata-bahasa lewat fungsi komunikatifnya, dan memahami struktur tata-bahasa dari bahasa sebagai hasil dari proses adaptif dimana tata-bahasa telah "disesuaikan" untuk melayani kebutuhan komunikatif penggunanya. Pandangan bahasa ini berhubungan dengan kajian bahasa dalam kerangka
pragmatis,
kognitif, dan kerangka interaksional, serta dalam
sosial-linguistik dan
antropologi linguistik. Para teori fungsionalis condong mempelajari tata-bahasa sebagai sebuah fenomena dinamis, sebagai suatu struktur yang selalu dalam proses perubahan saat mereka digunakan oleh para pembicaranya. Pandangan ini menyebabkan kajian
tipologi linguistik menjadi penting, karena ia dapat memperlihatkan bahwa proses-proses dari
gramatikalisasi condong mengikuti lintasan yang secara terpisah bergantung pada tipologi. Dalam filsafat bahasa pandangan ini sering dikaitkan dengan karya terakhir
Wittgenstein dan dengan filsuf bahasa umum seperti
G. E. Moore,
Paul Grice,
John Searle dan
J. L. Austin.
[sunting]Apa yang membuat bahasa manusia unik
Bahasa manusia unik bila dibandingkan dengan bentuk lain komunikasi, seperti yang digunakan oleh
hewan, karena ia membolehkan manusia untuk menghasilkan penyebutan yang tak terbatas dari sekumpulan elemen yang terbatas,
[9] dan karena simbol dan aturan tata-bahasa dari setiap bahasa secara kebanyakan sering berubah-ubah, sehingga sistem hanya dapat diperoleh melalui interaksi sosial. Sistem komunikasi yang digunakan hewan, di sisi lain, hanya dapat mengekspresikan sejumlah penyebutan terbatas yang umumnya ditransmisikan secara genetik.
[10]
Bahasa manusia juga berbeda dari sistem komunikasi hewan di mana mereka menggunakan
kategori tata-bahasa dan semantik seperti kata benda dan kata kerja, atau saat sekarang atau masa lalu, untuk mengekspresikan arti yang sangat kompleks.
[11] Bahasa manusia juga unik karena kompleksitas strukturnya melayani seluas mungkin fungsi dibandingkan sistem komunikasi lainnya.
Bahasa juga unik karena ia memiliki properti penting yang mengatur elemen-elemen menjadi struktur-struktur
rekursif; hal ini membolehkan, sebagai contohnya, frasa kata benda mengandung frasa kata benda lainnya (seperti pada "bibir simpanse") atau suatu klausa mengandung klausa (seperti pada "Saya kira sekarang hujan").
[sunting]Kajian bahasa
Kajian tentang bahasa,
linguistik, telah berkembang menjadi sains sejak deskripsi pertama tata-bahasa dari bahasa tertentu di
Indialebih dari 2000 tahun lalu. Linguistik sekarang adalah sebuah sains yang memperhatikan semua aspek yang berhubungan dengan bahasa, memeriksanya dari semua sudut pandang yang telah dijelaskan di atas.
Kajian akademis terhadap bahasa dilakukan dari banyak disiplin area berbeda dan dari sudut pandang teoritis yang berbeda, semuanya memberikan pendekatan modern terhadap linguistik. Sebagai contoh,
Deskriptif linguistik membedah tata-bahasa dari sebuah bahasa sehingga orang dapat mempelajari bahasa tersebut;
teoritikal linguistik mengembangkan teori terbaik untuk mengkonsepkan bahasa sebagai sebuah kajian, berdasarkan pada data dari berbagai macam bahasa manusia yang masih ada;
sociolinguistik mempelajari bagaimana bahasa digunakan untuk tujuan sosial memberikan kajian fungsi sosial dari bahasa dan deskripsi gramatikal;
neurolinguistikmempelajari bagaimana bahasa diproses dalam otak manusia, dan melakukan percobaan mengenai teori tentang kemampuan bahasa;
komputasi linguistik dibangun dari teori dan deskripsi linguistik untuk membangun model komputasi bahasa yang terkadang ditujukan untuk memproses bahasa alami, atau mencoba hipotesis linguistik; dan
historikal linguistik bergantung pada tata-bahasa dan deskripsi lexical dari bahasa untuk menyelidiki sejarah bahasa tiap-tiapnya dan membangun pohon keluarga-keluarga bahasa dengan menggunakan
metoda komparatif.

William Jones menemukan suatu koneksi etimologis antara
Latin dan
Sanskrit, bahasa dari India kuno.
Kajian formal bahasa dimulai di
India oleh
Panini, ahli tata-bahasa abad 5 BC yang memformulasikan 3.959 aturan dari
morfologi Sanskrit. Pada abad ke-18, penggunaan pertama dari
metoda komparatifoleh
William Jones memicu tumbuhnya
linguistik komparatif.
[12] Kajian ilmiah dari bahasa diperluas dari Indo-Eropa ke bahasa secara umum oleh
Wilhelm von Humboldt. Pada wal abad 20,
Ferdinand de Saussure memperkenalkan ide bahwa bahasa sebagai suatu sistem statik dari unit-unit yang saling berhubungan, didefinisikan lewat pertentangan antara mereka. Dengan memperkenalkan perbedaan analisis bahasa antara
diakronik dengan
sinkronik, dia meletakkan fondasi dari disiplin ilmu linguistik modern. Saussure juga memperkenalkan beberapa dimensi dasar dari analisis bahasa yang masih menjadi fondasi di banyak teori linguistik kontemporari, seperti perbedaan antara
sintagma dan
paradigma, dan
perbedaan Langue-parole, membedakan bahasa sebagai suatu sistem abstrak (
Language), dari bahasa sebagai suatu manifestasi konkrit dari sistem ini (
parole).
[13]
Sekitar tahun 1960-an
Noam Chomsky memformulasikan
teori generatif bahasa. Menurut teori tersebut bentuk paling dasar dari bahasa adalah suatu kumpulan aturan-aturan sintaks yang universal untuk semua manusia yang mendasari tata-bahasa dari semua bahasa manusia. Kumpulan aturan tersebut disebut dengan
Tata bahasa universal, dan Chomsky menyebutnya sebagai tujuan utama dari disiplin ilmu linguistik. Karena alasan tersebut tata-bahasa dari setiap bahasa hanya penting bagi linguistik, sejauh mereka membolehkan kita memahami aturan universal yang mendasari darimana keberagaman linguistik yang tampak dapat diturunkan.
Sebagai lawan dari teori formal dari sekolah generatif
Teori fungsional tata bahasa mengajukan bahwa sejak bahasa secara dasarnya adalah suatu alat, adalah masuk akal untuk mengasumsikan bahwa strukturnya lebih baik dianalisa dan dipahami dengan referensi terhadap fungsi-fungsi yang mereka bawa. Teori fungsional dari tata-bahasa berbeda dengan
Teori formal tata-bahasa, di mana yang terakhir mencari untuk mendefinisikan elemen-elemen berbeda dari bahasa dan menjelaskan bagaimana mereka berhubungan satu sama lain sebagai sistem aturan-aturan formal atau operasi-operasi, namun yang pertama mendefinisikan fungsi-fungsi yang dilakukan oleh bahasa dan kemudian menghubungkan fungsi-fungsi tersebut dengan elemen-elemen linguistik yang membawa mereka.
[14]Kerangka dari
Linguistik kognitif menginterpretasikan bahasa dalam bentuk konsep, terkadang universal, terkadang khusus terhadap bahasa tertentu, yang bergantung kepada bentuknya.
[15] Linguistik kognitif secara utama lebih memperhatikan tentang bagaimana pikiran membuat makna lewat bahasa.
[sunting]Bahasa dan bagian-bagiannya
Bila menjelaskan sistem
komunikasi simbolik, bahasa secara tradisional terdiri dari tiga bagian:
isyarat,
makna, dan sebuah
kode yang menghubungkan isyarat dengan maknanya. Kajian bagaimana isyarat dan makna digabungkan, digunakan dan diinterpretasikan disebut dengan
semiotik. Isyarat dapat dihasilkan dari suara, gestur, huruf atau simbol, bergantung kepada apakah suatu bahasa diucapkan, diisyaratkan atau ditulis, dan semuanya dapat digabungkan menjadi isyarat kompleks seperti kata dan kalimat. Pada saat digunakan untuk berkomunikasi sebuah isyarat disandikan dan dikirim oleh pengirim lewat sebuah kanal kepada penerima yang akan menterjemahkannya (sebuah sinyal).
Beberapa properti yang membedakan bahasa manusia dengan sistem komunikasi lainnya adalah: kesembarangan dari isyarat linguistik, yang berarti tidak adanya koneksi yang terprediksi antara isyarat linguistik dan maknanya; dualitas dari sistem linguistik, yang berarti struktur linguistik dibuat dengan menggabungkan elemen-elemen menjadi struktur luas yang dapat dilihat dalam tingkatan, contohnya: bagaimana suara membentuk kata dan kata membentuk kalimat; elemen-elemen bahasa yang berlainan, yang berarti elemen pembentuk isyarat linguistik terbentu dari unit yang berlainan, contohnya suara dan kata, yang dapat dibedakan satu sama lain dan tersusun ulang dalam pola yang berbeda; dan produktivitas dari sistem linguistik, yang berarti elemen linguistik yang terbatas dapat digabungkan menjadi kombinasi yang tak terbatas secara teori.
[16]
Aturan mengenai isyarat mana yang dapat digabungkan membentuk kata dan kalimat disebut dengan
sintaks atau tatabahasa. Suatu makna yang terhubung kesetiap isyarat-isyarat, kata-kata dan kalimat disebut dengan
semantik. Pembagian bahasa dalam suatu sistem isyarat dan makna yang terhubung tetapi berbeda dapat dilihat kebelakang berdasarkan kajian linguistik dari de Saussure dan sekarang digunakan hampir disemua bagian linguistik.
Bahasa mengekspresikan makna dengan mengaitkan sebuah isyarat dengan maknanya. Bahasa tersebut haruslah memiliki
kosa kataisyarat yang berkaitan dengan makna tertentu -- isyarat Inggris dari "anjing" menandakan, misalnya, anggota dari jenis
Canis. Dalam sebuah bahasa, susunan dari isyarat yang berubah-ubah yang terhubung kepada makna tertentu disebut dengan
lexicon, dan sebuah isyarat yang terhubung ke sebuah makna disebut dengan
lexeme. Tidak semua makna dalam sebuah bahasa direpresentasikan oleh satu kata -- terkadang konsep semantik terkandung dalam morfologi atau sintaks dari suatu bahasa dalam bentuk
kategori tatabahasa. Semua bahasa memiliki struktur semantik dari
predikat -- sebuah struktur yang mendasari sebuah properti, keadaan atau aksi. Secara tradisional semantik telah dipahami sebagai kajian bagaimana pembicara dan pendengar memberikan
nilai benar terhadap suatu pernyataan, sehingga makna dapat dipahami sebagai suatu proses dimana sebuah predikat dapat dikatakan benar atau salah mengenai sebuah entitas, contohnya: "[x [adalah y]]" atau "[x [maka y]]." Baru-baru ini, model dari semantik ini telah dilengkapi dengan model makna yang lebih dinamis yang menggabungkan pengetahuan yang sama tentang konteks dimana sebuah tanda diinterpretasikan menjadi produksi dari makna. Model makna seperti itu dieksplor lebih jauh dalam bidang
pragmatik.
[sunting]Suara dan simbol

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Fonologi
Cara suatu bahasa diucapkan menggunakan suara atau isyarat untuk membentuk suatu makna dikaji dalam
fonologi. Kajian bagaimana manusia menghasilkan dan memaknakan suara vokal disebut dengan
fonetik. Dalam bahasa ucapan makna dikonstruksi bila suara menjadi bagian dari sistem dimana beberapa suara dapat berkontribusi untuk mengekspresikan suatu makna dan suara lainnya tidak. Dalam setiap bahasa yang ada dari sekian banyak suara yang dapat dibuat oleh vokal manusia hanya sejumlah suara yang berkontribusi dalam pembentukan makna.
Suara sebagai bagian dari sistem linguistik disebut dengan
fonem. Semua
bahasa oral memiliki sedikitnya dua kategori fenom berbeda:
harakat dan
konsonan yang dapat digabungkan menjadi
suku kata. Selain segmen seperti harakat dan konsonan, beberapa bahasa juga menggunakan suara dengan cara berbeda untuk menyampaikan suatu makna. Banyak bahasa, misalnya, menggunakan
penekanan,
aksen,
durasi dan
nada untuk membedakan makna. Karena fenomena seperti ini bekerja diluar dari sebuah segmen mereka disebut dengan
suprasegmental.
Aksara merepresentasikan suara dari perkataan manusia menggunakan simbol visual. Alfabet latin (dan yang berbasis atau diturunkan darinya) adalah berbasiskan representasi dari suatu suara, sehingga kata-kata terbentuk dari huruf-huruf yang secara umum menandakan sebuah konsonan atau harakat dalam struktur dari kata. Dalam naskah suku kata, seperti naskah
Inuktitut, setiap isyarat merepresentasikan seluruh suku kata. Dalam naskah
logographic setiap isyarat merepresentasikan seluruh kata. Karena semua bahasa memiliki jumlah kata yang sangat banyak, tidak ada naskah logographic yang diketahui eksis. Untuk merepresentasikan suara dari bahasa-bahasa di dunia dalam penulisan, linguis telah mengembangkan
International Phonetic Alphabet, dirancang untuk merepresentasikan semua suara yang berbeda yang telah diketahui untuk membantu pemaknaan dalam bahasa manusia.
Tatabahasa adalah kajian bagaimana elemen-elemen makna (
morfem) dalam suatu bahasa dapat digabungkan menjadi pengucapan. Morfem dapat
bebas atau
terikat. Jika mereka bebas berpindah dalam pengucapan, mereka biasanya disebut dengan kata, dan jika mereka terikat dengan kata atau morfem lainnya, mereka disebut dengan
afiks. Bagaimana suatu elemen makna dapat digabungkan dalam suatu bahasa dikontrol oleh aturan-aturan. Aturan-aturan untuk mendapatkan struktur internal kata disebut dengan
morfologi. Aturan-aturan dari struktur internal dari frasa dan kalimat disebut dengan sintaks.
[17] Dalam tradisi generativis Chomsky morfologi dilihat sebagai bagian dari sintaks.
[sunting]Kategori Tatabahasa
Tatabahasa dapat diartikan sebagai sebuah sistem kategori, dan suatu kumpulan aturan-aturan yang menentukan bagaimana kategori-kategori digabungkan untuk membentuk aspek-aspek makna yang berbeda.
Bahasa-bahasa berbeda secara luas dalam apakah suatu kategori dikodekan lewat penggunaan unit kategori atau leksikal. Namun, beberapa kategori sangat umum sehingga hampir universal. Kategori universal itu termasuk pengkodean relasi gramatikal dari peserta dan predikat secara tatabahasa
berbeda antara relasinya terhadap predikat, pengkodean dari relasi
sementara dan
spasial pada predikat, dan sistem dari
pelaku gramatikal mengatur acuan dan perbedaan antara pembicara dan penerima dan tentang siapa yang mereka bicarakan.
[sunting]Kelas-kelas kata
Bahasa mengelompokkan
bagian-bagian dari pembicaraan menjadi kelas-kelas bergantung kepada fungsi dan posisi relatif terhadap bagian lainnya. Semua bahasa, misalnya, memiliki perbedaan mendasar antara sekelompok kata yang secara prototipikal mengacu pada sesuatu dan konsep dan sekelompok kata yang secara prototipikal mengacu pada aksi dan kejadian. Kelompok pertama, yang mengikutkan kata seperti "anjing" dan "lagu", biasanya disebut dengan
kata benda. Kelompok kedua, yang mengikutkan kata seperti "lari" dan "menyanyi", disebut dengan
kata kerja. Kategori umum lainnya adalah
Kata sifat, kata-kata yang menjelaskan properti atau kualitas dari kata benda seperti "merah" atau "besar".
Kelas-kelas kata juga memiliki fungsi berbeda dalam tatabahasa. Kata kerja prototipikal digunakan untuk membentuk
predikat, sementara kata benda digunakan sebagai
argumen dari predikat. Dalam kalimat seperti "Sally lari," predikatnya adalah "lari," karena ia merupakan kata yang menandakan keadaan tertentu tentang argumennya "Sally". Beberapa kata kerja seperti "sumpah" bisa saja memerlukan dua argumen, contohnya: "Sally menyumpahi John". Predikat yang hanya menggunakan satu argumen disebut dengan
intransitif, dan predikat yang memakai dua argumen disebut dengan
transitif.
Banyak kelas-kelas lain yang ada di bahasa yang berbeda, seperti
konjungsi yang berguna untuk menggabungkan dua kalimat dan
klausa yang memperkenalkan sebuah kata benda.
Banyak bahasa menggunakan proses morfologi
infleksi untuk merubah atau mengembangkan makna dari kata-kata. Dalam beberapa bahasa kata terdiri dari beberapa unit makna yang disebut morfem, kata bahasa Inggris "unexpected" dapat dianalisa terdiri dari tiga morfem "un-", "expect" dan "-ed". Morfem dapat dikelaskan berdasarkan apakah mereka akar dimana morfem yang lain terikat dengan
afiks ditambahkan, dan morfem terikat dapat dikelompokan berdasarkan posisinya dalam relasi terhadap akarnya:
prefiks lebih dulu dari akar,
sufiks setelah akar dan
infiks dimasukkan di antara akar. Afiks bertujuan untuk merubah atau mengembangkan makna dari akar. Beberapa bahasa mengganti makna dari kata dengan merubah struktur fonologi dari kata, contohnya kata Inggris "run" dengan kata kerja masa lampaunya adalah "ran". Lebih lanjut morfologi membedakan antara proses infleksi yang merubah atau mengembangkan kata, dan
derivasi yang membuat kata baru dari kata yang sudah ada -- contohnya kata Inggris "sing" yang dapat menjadi "singer" dengan menambahkan morfem derivasi -er untuk mendapatkan kata benda dari kata kerja. Bahasa-bahasa berbeda secara luas dalam seberapa banyak mereka bergantung kepada morfologi -- beberapa bahasa, secara tradisional disebut dengan
bahasa polisintetik, menggunakan morfologi secara ekstensif, sehingga ia mengekspresikan seluruh kalimat bahasa Inggris dalam satu kata. Contohnya kata
Greenlandic "
oqaatiginerluppaa"" "Ia memburuk-burukan tentang dia" yang terdiri dari akar
ogaa dan enam sufiks.
[18]

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
syntax
Bahasa yang menggunakan infleksi untuk menyampaikan makna terkadang tidak memiliki aturan kuat untuk urutan kata dalam suatu kalimat. Contohnya dalam
latin"
dominus servos vituperabat" dan "
servos vituperabat dominus" berarti "tuan menyumpahi budak", karena "
servos" "budak" ada dalam
kausa akusativ memperlihatkan bahwa ia adalah
objek dalam tatabahasa dari kalimat dan "
dominus" "tuan" ada dalam
kausa nominatifmemperlihatkan bahwa ia adalah subjek. Bahasa lain, namun, menggunakan sedikit atau tanpa proses infleksi tapi menggunakan urutan kata-kata dalam kaitannya satu sama lain untuk menghasilkan makna. Contohnya dalam bahasa Inggris dua kalimat "budak-budak menyumpahi tuannya" dan "tuan menyumpahi budak-budak" memiliki arti yang berbeda karena aturan subjek dalam tatabahasa disandikan dengan kata benda berada di depan kata kerja dan aturan objek disandikan dengan kata benda muncul setelah kata kerja.
Maka sintaks, memiliki kaitan dengan urutan kata dalam kalimat, dan secara spesifik bagaimana kalimat kompleks terstruktur dengan mengelompokkan kata-kata dalam unit-unit, disebut dengan
frasa, yang dapat menempati tempat berbeda dalam struktur sintaktik yang luas. Dibawah ini adalah representasi grafik dari analisis sintaktik dari kalimat "the cat sat on the mat". Kalimat dianalisa terbagi oleh frasa kata benda, kata kerja dan frasa preposisi; frasa preposisi terbagi lagi menjadi preposisi dan frasa kata benda; dan frasa kata benda terdiri dari klausul dan kata benda.
[sunting]Akuisisi bahasa
Semua manusia yang sehat,
berkembang secara normal, belajar menggunakan bahasa. Anak-anak memperoleh bahasa atau bahasa yang ada disekitarnya -- bahasa manapun yang mereka terima secara penuh selama masa kanak-kanak. Perkembangannya secara esensial sama antara anak-anak yang mempelajari
bahasa isyarat atau
bahasa oral.
[19] Proses belajar ini dikenal dengan akuisisi bahasa pertama, karena tidak seperti pembelajaran lainnya ia tidak membutuhkan pembelajaran langsung atau kajian secara khusus. Dalam
The Descent of Man naturalis
Charles Darwin menyebut proses tersebut dengan, "keinginan insting untuk memperoleh suatu seni."
[7]
Akuisisi bahasa pertama berlangsung regular secara bertahap, walaupun terdapat berbagai variasi dalam waktu untuk tingkatan-tingkatan tertentu di antara bayi yang berkembang secara normal. Sejak lahir, bayi merespon lebih mudah pada suara manusia daripada suara lainnya. Sekitar umur satu bulan, bayi tampak telah dapat membedakan antara
suara bicara yang berbeda. Sekitar umur enam bulan, seorang anak mulai
mengoceh, menghasilkan suara bicara dari bahasa yang digunakan disekitarnya. Perkataan mulai muncul pada umur 12 sampai 18 bulan; rata-rata
perbendaharaan kata bayi berumur 18 bulan adalah sekitar 50 kata. Pengucapan pertama anak adalah berbentuk
Holofrasa (secara harfiah "keseluruhan-kalimat"), pengucapan yang hanya menggunakan satu kata untuk mengkomunikasikan seluruh ide. Beberapa bulan setelah anak menghasilkan kata-kata, ia akan menghasilkan pengucapan dengan dua-kata, dan dalam beberapa bulan lebih mulai ber-
bicara telegrafis, kalimat singkat yang kurang kompleks secara
tatabahasa daripada orang dewasa bicara, tetapi memperlihatkan struktur sintaks reguler. Pada umur tiga sampai lima tahun, kemampuan anak untuk berbicara dan berisyarat yang halus yang hampir mirip dengan bahasa dewasa.
[20]
[sunting]Bahasa dan kultur
Bahasa, dipahami sebagai kumpulan norma-norma perkataan dari komunitas tertentu, juga termasuk bagian dari kultur yang lebih besar dari komunitas yang menggunakannya. Manusia menggunakan bahasa sebagai cara memberikan sinyal identitas antara grup kultur dan perbedaan dengan yang lainnya. Bahkan di antara pembicara dalam satu bahasa beberapa cara berbeda dalam menggunakan bahasa masih ada, dan setiapnya digunakan untuk memberikan sinyal pertalian antara subgrup dalam satu kultur yang besar. Linguis dan antropologis, terutama
sociolinguistic,
ethnolinguists dan
linguistic anthropologists telah mengkhususkan mengkaji bagaimana cara berbicara bisa berbeda antara
Komunitas bicara.
Cara komunitas menggunakan bahasa adalah bagian dari kultur komunitas tersebut, seperti praktek-praktek berbagi lainnya, ia merupakan cara untuk menunjukkan identitas grup. Cara-cara berbicara tidak hanya untuk berkomunikasi, tetapi juga untuk mengidentifikasikan posisi sosial dari pembicara. Linguis menggunakan istilah
variasi, sebuah istilah yang meliputi
dialek secara geografi atau sosialkultural dan juga
jargon atau
gaya dari
subkultur, untuk mengacu pada cara yang berbeda dalam pengucapan bahasa. Anthropologi linguistik dan sosiologi bahasa menjelaskan gaya komunikasi sebagai cara suatu bahasa digunakan dan dipahami dalam kultur tertentu.
[21]
Bahasa tidak hanya berbeda dalam pengucapan, kosa kata atau tatabahasa, tetapi juga berbeda dalam "kultur berbicara". Beberapa kultur sebagai contohnya memiliki sistem yang rumit dalam "sosial
deixis", sistem pemberian sinyal jarak sosial lewat makna linguistik.
[22] Dalam bahasa Inggris, sosial deixis diperlihatkan biasanya lewat perbedaan dalam memanggil orang dengan nama pertama dan yang lain dengan nama keluarga, tetapi juga dengan gelar separti "Nyonya", "anak", "Doktor" atau "Yang Mulia", tatapi dalam bahasa lain sistem seperti ini bisa sangat kompleks dan dikodifikasi dalam tatabahasa dan kosa kata dari bahasa tersebut. Misalnya, dalam beberapa bahasa di Asia timur, seperti
Thai,
Burma dan
jawa, kata yang berbeda digunakan bergantung kepada apakah pembicara berbicara kepada seseorang yang lebih tinggi atau rendah tingkatnya dari dirinya sendiri dalam sebuah sistem tingkatan dimana binatang dan anak-anak berada di tingkat rendah dan dewa-dewi dan anggota kerajaan sebagai yang tertinggi.
[22]

Tengkorak dari
Homo Neanderthalensis ditemukan di La Chapelle Aux Saints, Prancis. Masih belum diketahui apakah manusia Neanderthal memiliki bahasa.
Teori tentang asal mula bahasa dapat dibagi berdasarkan asumsi dasarnya. Beberapa teori berdasarkan ide bahwa bahasa sangat kompleks sehingga tidak dapat dibayangkan ia timbul dari ketiadaan sehingga menjadi seperti sekarang, tapi ia pastilah berkembang dari sistem pra-linguistik bersama dengan nenek moyang pra-manusia. Teori ini dapat disebut dengan teori berdasarkan keberlanjutan. Sudut pandang berlawanan yaitu bahwa bahasa adalah ciri unik manusia yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun yang ada di selain-manusia dan oleh sebab itu ia pastilah muncul mendadak pada saat transisi dari pra-hominid ke awal manusia. Teori ini dapat didefinisikan sebagai berbasis ketidakberlanjutan. Demikian juga beberapa teori melihat bahasa sebagai kemampuan lahir yang secara garis besar dikodekan dalam genetik, sementara yang lain melihatnya sebagai sistem yang besar secara kultur, yang dipelajari lewat interaksi sosial.
[23] Satu-satunya lawan yang menonjol dari teori ketidakberlanjutan dari asal mula bahasa manusia adalah
Noam Chomsky. Chomsky menyatakan bahwa 'Beberapa mutasi acak terjadi, mungkin setelah hujan sinar kosmik yang tak dikenal, dan ia menyusun ulang otak, menanam organ bahasa di dalam otak primata'. Walaupun memperingatkan supaya tidak menganggap kisah tersebut secara benar-benar, Chomsky bersikeras bahwa 'Ia mungkin lebih dekat pada kenyataan daripada dongeng-dongeng lainnya yang mengatakan tentang proses secara evolusi, termasuk bahasa'.
[24] Teori berbasis keberlanjutan sekarang dipegang oleh kebanyakan ilmuwan, tetapi mereka beragam dalam melihat perkembangannya.
[25] Bagi mereka yang melihat bahasa umumnya bawaan lahir, contohnya
Steven Pinker, menganggapnya mendahului
kesadaran binatang, sebaliknya mereka yang melihat bahasa sebagai alat komunikasi sosial yang dipelajari, seperti
Michael Tomasello, melihatnya berkembang dari
komunikasi binatang, baik itu gestur primata atau komunikasi vokal. Model berbasis keberlanjutan lainnya melihat bahasa berkembang dari musik.
[26]
Karena timbulnya bahasa berada sebelum prasejarah manusia, perkembangan yang berkaitan tidak meninggalkan jejak sejarah dan tidak ada proses perbandingan yang dapat diobservasi pada saat sekarang. Teori yang menekankan keberlanjutan sering melihat pada binatang untuk melihat jika, misalnya, primata memperlihatkan ciri-ciri yang dapat dilihat sebagai analogi terhadap bentuk bahasa dari pra-manusia. Secara alternatif, fosil awal manusia dapat diinspeksi untuk melihat jejak-jejak adaptasi fisik dari penggunaan bahasa atau bentuk jejak-jejak pra-linguistik dari perilaku simbolik.
Secara umum tak terbantahkan bahwa pra-manusia
australopithecine tidak memiliki sistem komunikasi yang secara signifikan berbeda dengan yang ditemukan pada
kera besar secara umum,
[rujukan?] tetapi para ahli memiliki opini yang berbeda-beda terhadap perkembangan sejak munculnya
Homo sekitar 2,5 juta tahun yang lalu. Beberapa ahli mengasumsikan perkembangan sistem mirip-bahasa primitif (proto-bahasa) sama awalnya dengan
Homo habilis, sementara ahli lainnya menempatkan perkembangan komunikasi simbol primitif hanya dengan
Homo erectus (1,8 juta tahun yang lalu) atau
Homo heidelbergensis (0,6 juta tahun yang lalu) dan perkembangan bahasa pada
Homo sapiens kurang dari 100.000 tahun lalu.
[27]
Johanna Nichols memperkirakan bahwa waktu yang diperlukan untuk sampai pada persebaran dan keberagaman seperti bahasa modern sekarang, mengindikasikan bahwa
bahasa oral timbul sekitar 100.000 tahun lalu.
[28]
Bahasa manusia biasanya disebut dengan bahasa alami, dan ilmu yang mengkajinya jatuh pada bidang linguistik. Bahasa itu hidup, mati, berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dan berubah seiring dengan waktu. Setiap bahasa yang berhenti berubah atau berkembang dikategorikan sebagai
bahasa mati. Kebalikannya, setiap bahasa yang selalu dalam keadaan berubahan diketahui sebagai
bahasa hidup atau
bahasa modern.
Membuat sebuah perbedaan yang berprinsip antara satu bahasa dan lainnya terkadang hampir tidak mungkin.
[29] Misalnya, ada beberapa
dialek bahasa Jerman yang mirip dengan dialek bahasa Belanda. Transisi antara bahasa dalam
bahasa keluarga yang sama terkadang bertingkat-tingkat (lihat
rangkaian dialek).
Beberapa condong membuat persamaan dengan
biologi, dimana tidak mungkin membuat perbedaan yang jelas antara satu spesies dengan spesies yang lain. Dalam setiap kasus, kesulitan tertinggi mungkin berada pada interaksi antara bahasa dan populasi. (Lihat
Dialek atau
August Schleicher untuk diskusi lebih panjang.)
Bahasa isyarat adalah sebuah bahasa yang, bukannya disampaikan menggunakan pola suara secara akustik, menggunakan pola isyarat yang dikirim secara visual (komunikasi manual, bahasa tubuh) untuk menyampaikan makna -- secara simultan menggabungkan pola tangan, orientasi dan pergerakan tangan, lengan atau tubuh, dan ekpresi wajah untuk mengekspresikan pikiran pembicara secara lancar. Ratusan bahasa isyarat digunakan diseluruh dunia dan sebagai inti dari kultur Tuli lokal.
[sunting]Bahasa Artifisial

Buku pertama yang diterbitkan tentang
Esperanto, bahasa bentukan yang digunakan hampir sedunia.
Ekspresi dari "bahasa terencana" terkadang digunakan untuk mengartikan bahasa bantu internasional dan bahasa bentukan lainnya untuk penggunaan nyata dalam komunikasi manusia. Beberapa lebih menyukai istilah "artifisial" yang mungkin memiliki konotasi buruk dalam beberapa bahasa. Di luar
komunitas Esperanto, istilah
bahasa terencana berarti resepnya berada pada bahasa alami untuk menstandarkannya; dalam hal ini, bahkan "bahasa alami" mungkin artifisial dalam hal-hal tertentu.
tatabahasa preskriptif, yang ada pada masa kuno untuk bahasa klasik seperti Latin, Sanskrit, dan Cina adalah kodifikasi berbasis aturan dari bahasa alami, kodifikasinya berada di antara seleksi alami yang naif dan perkembangan bahasa dan konstruksinya yang jelas.

Tabel
ASCII, skema untuk pengkodean rangkaian karakter.
Bahasa pemrograman adalah bahasa formal diberkahi dengan
semantik yang dapat digunakan untuk mengkontrol perilaku dari mesin, terutama komputer, untuk melakukan pekerjaan tertentu. Bahasa pemrograman dibentuk menggunakan aturan sintaks dan semantik, untuk menentukan struktur dan makna secara berurutan.
Bahasa pemrograman digunakan untuk memfasilitasi komunikasi mengenai pekerjaan tentang pengorganisasian dan manipulasi informasi, dan untuk mengekspresikan algoritma secara tepat. Beberapa penulis
[siapa?]membatasi istilah "bahasa pemrograman" untuk bahasa yang dapat mengekspresikan semua algoritma yang ada; terkadang istilah "bahasa komputer" juga digunakan terhadap bahasa artifisial yang lebih terbatas.
[rujukan?]
[sunting]Komunikasi binatang
Istilah "
bahasa binatang" sering digunakan untuk sistem komunikasi selain-manusia. Linguistik dan semiotisian tidak mempertimbangkan mereka sebagai "bahasa" sejati, tetapi menggambarkan mereka sebagai
komunikasi binatang berdasarkan sistem isyarat tidak-simbolis,
[30] karena interaksi antara binatang dalam berkomunikasi secara fundamental berbeda secara mendasar dari bahasa manusia. Menurut pendekatan ini, sejak binatang tidak lahir dengan kemampuan memahami, istilah "kultur", saat diaplikasikan ke komunitas binatang, dipahami mengacu pada sesuatu yang secara kualitas berbeda dengan yang ada di komunitas manusia. Bahasa, komunikasi dan kultur adalah hal-hal yang lebih kompleks di antara manusia. Anjing mungkin saja secara sukses mengkomunikasikan keadaan emosi agresifnya dengan menggeram, yang mungkin atau mungkin tidak menyebabkan anjing lainnya menjauh atau mundur. Hal yang sama, pada saat manusia berteriak dalam ketakutan, ia mungkin atau mungkin tidak memberitahu manusia lain akan adanya bahaya. Keduanya mencontohkan komunikasi, tapi keduanya bukan yang secara umum dikenal dengan bahasa.
Dalam beberapa contoh publikasi, binatang selain manusia telah diajarkan untuk memahami beberapa fitur dari bahasa manusia.
Karl von Frisch menerima hadiah Nobel ditahun 1973 untuk pembuktian komunikasi isyarat dan variannya pada lebah.
[31] Simpanse,
gorila, dan
orangutan telah diajarkan isyarat tangan berbasis
American Sign Language.
Burung beo Abu-abu Afrika,
Alex, yang memiliki kemampuan meniru perkataan manusia dengan tingkat akurasi yang tinggi, dianggap memiliki inteligensi yang cukup untuk memahami apa yang ia tiru. Walaupun binatang dapat diajarkan untuk memahami bagian dari bahasa manusia, mereka tidak dapat menghasilkan sebuah bahasa.
Bila pendukung dari sistem komunikasi binatang telah mendebatkan tingkat dari
semantik, sistem ini belum ditemukan yang mendekati
sintaks pada bahasa manusia.
[32]
- Kajian tentang Bahasa
- Tipe-tipe bahasa
- Keterhubungan bahasa
- Bahasa tersandikan
- Asal mula bahasa
|
- Agama dan mitologi
- Edukasi dan kebijakan publik
- Komunikasi dengan spesies lain
- Semiotik
|
- Daftar-daftar
- Lainnya
| |
- ^ [1]
- ^ "language". The American Heritage Dictionary of the English Language(3rd). (1992). Boston: Houghton Mifflin Company.
- ^ the world's endangered tonguesretrieved 9 February 2012
- ^ Lyons, John. 1981. Language and Linguistics. p. 2
- ^ Lyons, John. 1981. Language and Linguistics. pp. 1–8
- ^ Marc D. Hauser and W. Tecumseh Fitch (2003). "What are the uniquely human components of the language faculty?". di dalam M.H. Christiansen and S. Kirby. Language Evolution: The States of the Art. Oxford University Press.
- ^ a b Pinker, Steven (1994). The Language Instinct: How the Mind Creates Language. Perennial.
- ^ Chomsky, Noam (1957). Syntactic Structures. the Hague: Mouton.
- ^ Hauser,Marc D. (2002). "The Faculty of Language: What Is It, Who Has It, and How Did It Evolve?". Science 22298 (5598): 1569–1579.
- ^ Tomasello, Michael (2008). Origin of Human Communication. MIT Press.
- ^ Deacon, Terrence. 1997. The Symbolic Species: The Co-evolution of Language and the Brain. New York: W.W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-31754-1
- ^ Bloomfield 1914, hal. 310
- ^ Clarke, David S. (1990). Sources of semiotic: readings with commentary from antiquity to the present. Carbondale: Southern Illinois University Press. hlm. 143–144.
- ^ Nichols, Johanna (1984). "Functional Theories of Grammar". Annual Review of Anthropology 13. "[Functional grammar] analyzes grammatical structure, as do formal and structural grammar; but it also analyzes the entire communicative situation: the purpose of the speech event, its participants, its discourse context. Functionalists maintain that the communicative situation motivates, constrains, explains, or otherwise determines grammatical structure, and that a structural or formal approaches not merely limited to an artificially restricted data base, but is inadequate ven as a structurala ccount. Functional grammar, then, differs from formala nd structural grammar in that it purports not to model but to explain; and the explanation is grounded in the communicative situation.".
- ^ Croft, William and D. Alan Cruse (2004). Cognitive Linguistics. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 1.
- ^ Lyons, John (1981). Language and linguistics. Cambridge University Press. hlm. 17–24.
- ^ Lyons, John (1981). Language and linguistics. Cambridge University Press. hlm. 103.
- ^ Rischel, Jørgen. Grønlandsk sprog.[2] Den Store Danske EncyklopædiVol. 8, Gyldendal
- ^ Bonvillian, John D. (December 1983). "Developmental milestones: Sign language acquisition and motor development". Child Development 54(6): 1435-1445.
- ^ O'Grady, William; Cho, Sook Whan (2001). "First language acquisition".Contemporary Linguistics: An Introduction (edisi ke-fourth). Boston: Bedford St. Martin's.
- ^ Clancy, Patricia. (1986) "The acquisition of communicative style in Japanese." In B. Schieffelin and E. Ochs (eds) Language Socialization across Cultures. Cambridge: Cambridge University Press.
- ^ a b Foley 1997 p??
- ^ Ulbaek, Ib (1998). "The Origin of Language and Cognition". di dalam J. R. Hurford & C. Knight. Approaches to the evolution of language. Cambridge University Press. hlm. 30–43.
- ^ Chomsky, N. (2000). The Architecture of Language. Oxford: Oxford University Press, p. 4.
- ^ (Indonesia) Jurnal KeSimpulan.com - Simpanse Panzee Letakkan Evolusi Bahasa Primata Sebelum Spesies Manusia
- ^ The Economist , "The evolution of language: Babel or babble?" , 16 April 2011 , pp. 85-86.
- ^ (Indonesia)News KeSimpulan.com - Evolusi Keragaman Fonemika Bahasa Budaya Dukung Ekspansi Out of Afrika
- ^ Bower, Bruce (11 June 1994)."Talking back in time; prehistoric origins of language attract new data and debate - language evolution".Science News on Bnet (Technology Industry). CBS Interactive News Service. Diakses pada 29 September 2010.
- ^ "Language". The New Encyclopædia Britannica: MACROPÆDIA 22. (2005). Encyclopædia Britannica,Inc.. 548 2b.
- ^ Cobley, P. 2010. Routledge Companion to Semiotics. London.
- ^ Frisch, K. v. 1953. 'Sprache' oder 'Kommunikation' der Bienen?Psychologische Rundschau 4.
- ^ Sebeok, T. A. 1996. Signs, bridges, origins. In: Trabant, Jürgen (ed.),Origins of Language. Budapest: Collegium Budapest, 89–115.
- Bloomfield, Leonard (1914). An introduction to the study of language. New York: Henry Holt and Company.
- Baepler, Paul (2003). "White slaves, African masters". The ANNALS of the American Academy of Political and Social Science 588 (1): 90–11. doi:10.1177/0002716203588001007.
- Chakrabarti, Byomkes (1994). A comparative study of Santali and Bengali. Calcutta: K.P. Bagchi & Co. ISBN 81-7074-128-9.
- Crystal, David (1997). The Cambridge Encyclopedia of Language. Cambridge: Cambridge University Press.
- Crystal, David (2001). The Cambridge Encyclopedia of the English Language. Cambridge: Cambridge University Press.
- Gode, Alexander (1951). Interlingua-English Dictionary. New York: Frederick Ungar Publishing Company.
- Hobbes, Thomas (2008) [1651]. Leviathan. Forgotten Books.
- Holquist, Michael (1981). "Introduction". di dalam Bachtin, Michail M. The Dialogic Imagination: Four Essays. Austin and London: University of Texas Press.
- Kandel, ER; Schwartz, JH; Jessell, TM (2000). Principles of Neural Science (edisi ke-fourth). New York: McGraw-Hill. ISBN 0-8385-7701-6.
- Katzner, K (1999). The Languages of the World. New York: Routledge.
- McArthur, T (1996). The Concise Companion to the English Language. Oxford: Oxford University Press.
- Nöth, Winfried (1995). Handbook of semiotics. Bloomington: Indiana University press.
- Saussure, Ferdinand de; Harris, Roy, Translator (1983) [1913]. Bally, Charles; Sechehaye, Albert. eds. Course in General Linguistics. La Salle, Illinois: Open Court. ISBN 0-8126-9023-0.
- Zvelebil, Kamil (1973). The smile of Murugan on Tamil literature of South India. Leiden: Brill.
[sunting]Bacaan lebih lanjut
Berkas suara ini dibuat dari revisi tanggal 2005-07-19, dan tidak termasuk suntingan terbaru ke artikel. (
Bantuan suara)